Pasangkayu, RelasiPublik.id — Di sebuah kecamatan kecil di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, secara harapan lahir dari tangan-tangan muda yang tak pernah lelah bermimpi.
Fatur Rahman Hidayat Marsha, lulusan magister Universitas Hasanuddin, adalah salah satu sosok inspiratif di balik lahirnya komunitas Inisiasi muda pada 2022. Baginya, perubahan besar seringkali berawal dari keresahan kecil.
“Anak-anak muda di sini punya semangat, tapi mereka butuh ruang, wadah untuk bergerak. Itu yang ingin saya wujudkan lewat Inisiasimuda,” ujarnya.
Inisiasimuda lahir dari kegelisahan akan minimnya ruang bagi anak muda untuk berkarya dan berkontribusi dalam aksi sosial. Komunitas ini menjadi jembatan antara idealisme dan aksi nyata, bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan lingkungan. Semua aktivitasnya digerakkan secara swadaya, mengandalkan kekuatan proposal dan jejaring yang dibangun perlahan.
Konsistensi dan kerja kolektif yang dijalankan mulai membuahkan hasil. Dukungan penting datang dari PT Letawa, anak perusahaan PT Astra Agro Lestari Tbk, yang melalui program CSR rutin menjadi mitra strategis dalam berbagai kegiatan Inisiasimuda.
Semntar Ahmad Faizal dari CSR PT Letawa menegaskan pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini.
“Jika kita ingin memahami keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem mangrove, edukasi lewat jelajah alam dan susur mangrove adalah langkah tepat. Ini bukan hanya soal menanam, tapi mengenalkan nilai-nilai lingkungan kepada generasi muda,” katanya.
Komitmen Inisiasimuda juga tercermin dalam gelaran webinar nasional bertajuk “Pemuda Desa Berdampak” pada 25 Mei 2025, yang diadakan secara hybrid di Kedai Opakopi, Desa Jengeng Raya. Ratusan pemuda mengikuti webinar dengan tema “Dari Desa untuk Dunia,” menghadirkan Restuan Lubis, Ph.D, putra daerah Pasangkayu yang kini menempuh studi doktoral di Jerman lewat beasiswa LPDP.
Restuan berbagi kisah inspiratif tentang bagaimana anak petani dari desa bisa menembus dunia internasional lewat pendidikan. Ia menekankan pentingnya mencatat mimpi, menghindari kebiasaan tak produktif, dan memperluas jaringan lewat organisasi. “Yang paling utama, jangan pernah lupa berbakti kepada orang tua,” pesannya.
Webinar ini menjadi bagian dari rangkaian program jangka panjang Inisiasimuda yang meliputi coaching project plan, workshop kepemimpinan, presentasi ide, hingga aksi nyata seperti gerakan tanam mangrove dan kampanye peduli lingkungan pesisir.
Bagi Fatur dan tim, semua ini bukan sekadar acara. Ini adalah proses membentuk karakter, membangun kesadaran, dan membuktikan bahwa pemuda desa bukan hanya penonton di panggung pembangunan, tapi pelaku utama.
Mereka bermimpi melahirkan generasi pemimpin baru, membangun edupreneur dan sociopreneur berbasis lokal, serta menyusun skema ketahanan pangan berkelanjutan. Bahkan, mereka berharap suatu saat Inisiasimuda bisa memberikan beasiswa bagi anak-anak yang ingin sekolah tapi terkendala biaya.
“Mimpi kami besar, tapi kami mulai dari yang kecil. Dari mangrove yang kami tanam hari ini, semoga lahir kesadaran dan cinta pada alam yang tumbuh panjang seperti akar-akarnya,” tutup Fatur penuh harap.
Dari Tikke Raya, langkah-langkah kecil itu kini menjadi jejak perubahan. Inisiasimuda bukan sekadar komunitas — ia simbol bahwa perubahan bisa tumbuh dari pinggiran, selama ada hati yang peduli dan tangan yang mau bekerja. Dari desa, untuk dunia.
Sebanyak 120 peserta ambil bagian, mulai dari siswa SMAN 1 Tikke, relawan lingkungan, komunitas pecinta alam, TNI AL, Dinas Lingkungan Hidup Pasangkayu, hingga Duta Wisata.
(*)













