MamujuSulbar

Jual Masa Depan Rakyat Demi Segelintir Investor, Aktivis Mahasiswa Tegas Tolak Tambang Tanah Jarang di Botteng Mamuju

69
×

Jual Masa Depan Rakyat Demi Segelintir Investor, Aktivis Mahasiswa Tegas Tolak Tambang Tanah Jarang di Botteng Mamuju

Sebarkan artikel ini

Mamuju, RelasiPublik.id—Gelombang penolakan terhadap rencana masuknya investor tambang logam tanah jarang (LTJ) di wilayah Botteng Mamuju terus menguat.

Mahasiswa bersama masyarakat menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk aktivitas pertambangan yang dianggap berpotensi merusak lingkungan, mengancam ruang hidup warga, dan mengorbankan kepentingan masyarakat demi keuntungan segelintir pihak.

Aktivis mahasiswa, Yusril, menegaskan bahwa masyarakat Botteng tidak membutuhkan investasi yang berujung pada kerusakan alam dan penderitaan rakyat.

Menurutnya, tambang logam tanah jarang hanya akan membuka ruang eksploitasi terhadap tanah masyarakat yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga.

 

“Botteng bukan tanah kosong yang bisa seenaknya dijadikan lahan eksploitasi investor. Tanah ini adalah ruang hidup masyarakat, tempat rakyat menggantungkan masa depan mereka. Kami menolak keras segala bentuk pemaksaan masuknya tambang logam tanah jarang di wilayah Botteng,” tegas Yusril.

Ia juga menyoroti pola investasi tambang yang kerap datang dengan janji kesejahteraan, tetapi meninggalkan kerusakan lingkungan dan konflik sosial di tengah masyarakat.

Menurutnya, rakyat sering kali hanya dijadikan penonton di tanahnya sendiri ketika kepentingan investor mulai masuk dan menguasai wilayah masyarakat.

“Kami sudah terlalu sering melihat bagaimana tambang masuk dengan membawa janji manis, tetapi akhirnya rakyat kehilangan tanah, air tercemar, hutan rusak, dan masyarakat hidup dalam ancaman. Jangan jadikan Botteng sebagai korban berikutnya,” ungkapnya, Jumat (15/5).

Yusril menjelaskan bahwa aktivitas tambang logam tanah jarang berpotensi menimbulkan berbagai dampak serius bagi masyarakat dan lingkungan.

Dampak tersebut antara lain:

1. Kerusakan hutan dan pembukaan lahan besar-besaran yang mengancam kelestarian lingkungan.

2. Pencemaran sumber air bersih akibat limbah pertambangan.

3. Ancaman longsor dan banjir karena pengerukan tanah dan rusaknya kawasan resapan air.

4. Hilangnya lahan pertanian produktif milik masyarakat.
5. Debu dan limbah tambang yang berpotensi mengganggu kesehatan warga.

6. Kerusakan jalan dan fasilitas umum akibat aktivitas kendaraan tambang.

7. Konflik sosial di tengah masyarakat akibat kepentingan tambang.

8. Hilangnya ruang hidup masyarakat serta ancaman terhadap masa depan generasi mendatang.

9. Rusaknya ekosistem dan keanekaragaman hayati di wilayah Botteng.

jika eksploitasi tambang dipaksakan masuk, masyarakat Botteng bisa kehilangan sumber mata pencaharian utama yang selama ini bergantung pada sektor pertanian dan lingkungan yang sehat.

Ia menilai keuntungan tambang hanya akan dinikmati investor, sementara masyarakat sekitar harus menanggung dampak kerusakan dalam jangka panjang.

“Yang datang mungkin investor, tetapi yang menanggung akibatnya adalah rakyat. Ketika gunung rusak, air tercemar, dan tanah kehilangan kesuburan, masyarakatlah yang paling menderita. Jangan tukar masa depan Botteng hanya demi kepentingan segelintir pemodal,” tegas Yusril.

Yusril juga menyampaikan alarm keras kepada pemerintah agar tidak menutup mata terhadap ancaman tambang tanah jarang di Botteng. Ia meminta pemerintah untuk tidak hanya hadir ketika kepentingan investasi masuk, tetapi juga hadir melindungi keselamatan lingkungan dan masa depan masyarakat.

“Pemerintah jangan hanya menjadi penjaga kepentingan investor. Dengarkan suara rakyat yang hari ini resah dan takut kehilangan tanahnya sendiri. Jika pemerintah terus memaksakan tambang masuk tanpa mendengar aspirasi masyarakat, maka itu sama saja membiarkan penderitaan rakyat terjadi di depan mata,” ujarnya.

Ia juga menilai pemerintah harus berhenti berpihak kepada kepentingan investor dan mulai mendengar suara masyarakat yang menolak aktivitas tambang.

Masyarakat memiliki hak penuh untuk mempertahankan wilayahnya dari ancaman eksploitasi yang dianggap merusak masa depan generasi mendatang.

“Kalau investor memaksa masuk, maka jangan salahkan rakyat ketika perlawanan muncul. Mahasiswa dan masyarakat siap turun ke jalan untuk mempertahankan tanah Botteng dari ancaman tambang logam tanah jarang,” tutupnya.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *