OpiniOpini

Media Sosial dan Standar Kecantikan: Pengaruhnya Terlihat, Sebab-Akibatnya Belum Pasti

10
×

Media Sosial dan Standar Kecantikan: Pengaruhnya Terlihat, Sebab-Akibatnya Belum Pasti

Sebarkan artikel ini

Oleh: Fitri

Opini, RelasiPublik.id—Setiap kali standar kecantikan dibahas, media sosial biasanya jadi pihak pertama yang disalahkan. Menurut saya, anggapan itu ada benarnya. Media sosial ikut membentuk standar kecantikan perempuan Indonesia, tetapi data yang ada belum cukup untuk menyebutnya penyebab utama, dan saya kira kita perlu jujur soal batas itu.

Menurut We Are Social dan Meltwater 2025, Indonesia punya sekitar 143 juta pengguna aktif media sosial, atau sekitar 50,2 persen penduduk. Dalam ZAP Beauty Index 2023, 95 persen perempuan responden mengaku memakai Instagram untuk mencari tips dan inspirasi kecantikan. Dari angka ini, saya melihat bahwa gambar tentang penampilan ideal sampai ke banyak orang lewat layar yang mereka pakai sehari-hari. Yang saya rasakan, belakangan makin banyak orang memakai standar yang beredar di TikTok sebagai patokan penampilan. Ini pengamatan pribadi, bukan hasil survei, dan saya belum menemukan survei nasional yang membandingkan TikTok dengan platform lain.

Survei ZAP Beauty Index, yang dilakukan klinik kecantikan ZAP bersama MarkPlus, memberi gambaran soal standar itu. Edisi 2020 dengan 17.889 responden mencatat 73,1 persen menganggap kulit putih, bersih, dan glowing sebagai definisi cantik. Pada edisi 2024, 98,9 persen dari 9.000 responden berusia 15 sampai 65 tahun setuju bahwa kulit putih tidak lagi menjadi standar kecantikan. Pertanyaan keduanya tidak sama persis, jadi menurut saya tidak tepat kalau langsung dibandingkan. Yang konsisten, wajah bersih dan mulus tetap menjadi kriteria teratas pada 2024 dengan 30,7 persen. Rasa tidak percaya diri juga tinggi. Edisi 2023 mencatat 50,1 persen responden paling tidak aman dengan kondisi kulit wajah dan 44,9 persen dengan ukuran atau berat badan, sementara pada 2024 sebanyak 71,4 persen mengaku mengeluarkan lebih dari Rp300.000 per bulan untuk skincare.

Soal peran platform, data paling banyak berasal dari penelitian internal Facebook yang dilaporkan Wall Street Journal pada 2021. Salah satu presentasinya menyebut 32 persen remaja perempuan yang merasa buruk soal tubuhnya mengatakan Instagram membuat perasaan itu bertambah buruk. Laporan yang sama mencatat bahwa melihat atau mengunggah selfie berfilter membuat sebagian pengguna merasa lebih buruk. Facebook membantah bahwa temuan itu menunjukkan Instagram merugikan. Perusahaan menyebut dokumen tersebut punya keterbatasan, dan bahwa pada kelompok yang sama 22 persen merasa terbantu serta sekitar 45 persen merasa tidak ada pengaruh.

Ada batas yang perlu diingat. ZAP menjual layanan klinik dan perawatan kulit, sehingga hasil surveinya perlu dibaca dengan mempertimbangkan kepentingan komersial itu, dan sebagian survei dilakukan secara daring. Penelitian Facebook tidak khusus menyasar pengguna Indonesia. Studi akademik 2025 sampai 2026 tentang TikTok dan Instagram di sini masih berskala kecil dan lokal. Arah sebabnya pun belum jelas, karena orang yang sudah tidak puas dengan penampilannya mungkin lebih sering mencari dan membandingkan konten kecantikan.

Karena itu, saya lebih setuju pada langkah yang tidak menunggu kepastian. Platform dan pengiklan bisa memberi label yang jelas pada konten yang diedit atau berfilter. Platform dan peneliti bisa membuka data untuk pengguna Indonesia supaya klaim bisa diuji secara independen. Sekolah dan orang tua bisa mengajarkan literasi media, terutama cara menilai gambar yang sudah diedit. Dengan begitu, kita tidak perlu memilih antara menyalahkan platform atau menyalahkan penggunanya.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *