MAMUJU, RelasiPublik.id – Penyelenggaraan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur Ke-50 di Sulawesi Barat (Sulbar) menyisakan polemik tajam.
Salah satu peserta, lewat akun TikTok @sarjana_jengkol mengatakan, adanya oknum panitia yang telah mencoreng nama Sulbar.
Peserta tersebut mengklaim bahwa oknum itu telah “membawa lari”
Dalam video tersebut, ia menyebut panitia belum memberikan hadiah kepada pemenang.
Bahkan tidak membayar biaya penginapan hotel para peserta.
Menanggapi kekisruhan ini, Ketua Panitia Kejurnas Percasi Ke-50, Juaeni akhirnya angkat bicara secara mengejutkan membuat pengakuan bahwa dirinya tidak memiliki kendali atas urusan keuangan acara.
”Saya juga harus mengklarifikasi bahwa saya ini sekedar ketua panitia,” tegasnya.
Ia mengungkapkan bahwa seluruh administrasi keuangan, baik pemasukan dana maupun pengeluaran, dipegang penuh oleh
istri dari Ketua Pengprov Percasi Sulbar, Muhammad Jayadi.
”Soal pembayaran dan pemasukan itu yang kendalikan istri Pak Jayadi,” kata Juaeni Jumat (14/11).
Hotel Belum Dibayar, Piagam Wasit Tertahan
Jauheni membenarkan bahwa dampak dari pengelolaan keuangan terpusat itu kini menimbulkan masalah serius.
Saat ditanya mengenai istri Jayadi saat ini masih berada di Hotel Matos Mamuju, yang merupakan lokasi utama pelaksanaan Kejurnas.
”Benar, (beliau masih di hotel) karena pembayaran administrasi untuk tempat pelaksanaan di Hotel Matos Mamuju belum diselesaikan,” ungkapnya.
Masalah lain juga menimpa peserta pelatihan wasit.
Juaeni membenarkan keluhan para peserta yang tidak mendapatkan piagam dari PB Percasi.
Menurutnya, hal ini terjadi karena PB Percasi menganggap peserta belum melakukan pembayaran, padahal para peserta mengaku telah menyetor uang pelatihan langsung kepada istri Ketua Percasi Sulbar.
Dana Ratusan Juta Masuk
Jauheni menegaskan bahwa panitia sebenarnya telah menerima bantuan dana dalam jumlah signifikan untuk menyukseskan acara tersebut.
Ia merinci bahwa pemasukan yang sudah diterima panitia antara lain berasal dari Koni Sulbar sebanyak Rp500 juta dan bantuan dari PB Percasi sebanyak Rp300 juta.
”Itu belum termasuk bantuan sponsor dari pihak perbankan dan pihak swasta yang ada di Sulbar,” pungkas Juaeni.
Kini, nasib pembayaran hotel, uang hadiah para juara, dan piagam peserta pelatihan wasit bergantung pada penyelesaian administrasi keuangan yang dipegang oleh istri Ketua Pengprov Percasi Sulbar.
Sementara Menanggapi tudingan itu, Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Sulawesi Barat, H. Jayadi, menyampaikan klarifikasi.
Jayadi membantah tudingan pengusiran dari hotel.
https://relasipublik.id/2025/11/12/dki-jakarta-juara-umum-kejurnas-catur-ke-50-di-mamuju/
Ia juga menyayangkan adanya miskomunikasi.
Kata Jayadi, pihak hotel seharusnya membangun komunikasi lebih baik dengan panitia.
“Kalau ada isu mengatakan ada pengusiran oleh pihak hotel, saya kira ini perlu diperbaiki manajemen hotel. Karena kami telah membangun komunikasi, harusnya dikomunikasikan ke kita,” ujar Jayadi, saat ditemui di salah satu Cafe di Mamuju, Kamis (13/11/2025).
(Hl)













