MamujuSulbar

Ketua Percasi Sulbar Muhammad Jayadi, Klarifikasi Terkait Pemberitaan Miring Kejurnas Catur Ke-50

161
×

Ketua Percasi Sulbar Muhammad Jayadi, Klarifikasi Terkait Pemberitaan Miring Kejurnas Catur Ke-50

Sebarkan artikel ini

MAMUJU, RelasiPublik.id – Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Pengprov Percasi) Sulawesi Barat (Sulbar), Muhammad Jayadi, dengan tegas membantah keras viralnya pemberitaan yang menuding penyelenggaraan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur Ke-50 di Sulbar.

Ketua Pengprov Percasi Sulbar, Muhammad Jayadi, menegaskan bahwa seluruh informasi yang menyebut Kejurnas tercoreng oleh persoalan internal adalah tidak benar.

Ia menilai, sejumlah media telah menayangkan berita tanpa sumber yang jelas sehingga menimbulkan kesalahpahaman di publik.

“Saya ingin menegaskan bahwa Kejurnas Catur ke-50 di Mamuju berjalan sukses. Banyak pihak, termasuk peserta dan official, memberikan apresiasi atas penyelenggaraan ini. Ini merupakan amanah dan tanggung jawab penuh Pengprov Percasi Sulbar,” ujar Jayadi dalam konferensi pers di Mamuju, Kamis (13/11/2025).

Isu Pengusiran Peserta Dibantah
Menanggapi kabar adanya pengusiran peserta dari hotel, Jayadi menyebut hal itu keliru. Ia memastikan seluruh akomodasi telah dikoordinasikan dengan pihak hotel sejak awal.

“Kalau ada isu peserta diusir, itu tidak benar. Kami sudah berkomunikasi dengan pihak hotel. Memang ada keterbatasan, terutama soal anggaran, tapi semuanya berjalan dengan baik,” ucapnya.

Kejurnas Terkendala Dana
Jayadi mengakui pelaksanaan Kejurnas sempat menghadapi kendala dari sisi pendanaan. Meski sudah mendapat hibah dari KONI Sulbar sebesar Rp500 juta dan dukungan PB Percasi Rp150 juta, dana tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal.

“Proposal awal kami sebesar Rp2,7 miliar dengan perkiraan seribu peserta. Tapi yang hadir hanya sekitar 600 orang, dan itu tetap membutuhkan biaya besar. Setelah dihitung, kami masih kekurangan sekitar Rp700 juta,” ungkapnya.

Menurut Jayadi, Gubernur Sulbar juga telah membantu melakukan komunikasi dengan sejumlah sponsor di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan, Kalimantan, dan Jakarta. Namun, proses pencairan dana sponsor memerlukan waktu karena kendala administrasi.

“Sampai sekarang sponsor yang masuk belum sampai Rp100 juta. Tapi kami tetap berupaya agar kegiatan ini bisa tuntas dengan baik,” tuturnya.

Jayadi menambahkan, administrasi pendaftaran dan pembayaran peserta berada di bawah kewenangan PB Percasi. Ia memastikan pelaksanaan Kejurnas tetap berjalan sesuai jadwal, yakni 7–13 November 2025, meski di tengah berbagai keterbatasan.

“Yang paling besar itu biaya sarana, prasarana, dan operasional. Ke depan ini akan kami jadikan bahan evaluasi agar penyelenggaraan berikutnya bisa lebih baik lagi,” Tutup Jayadi.

Sebelumnya telah diberitakan Gelaran Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-50 yang baru saja ditutup di Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), harus tercoreng oleh serangkaian insiden manajemen yang memalukan. Alih-alih menjadi ajang kebanggaan tuan rumah, event akbar ini justru meninggalkan catatan hitam berupa tunggakan hotel, keluhan atlet, hingga hadiah juara umum yang tak kunjung diserahkan.

​Puncak dari kekacauan ini terjadi sesaat setelah acara penutupan. Panitia pelaksana Kejurnas dilaporkan dihadang dan dilarang meninggalkan area hotel tempat mereka menginap. Aksi ini terpaksa dilakukan oleh pihak manajemen hotel karena panitia belum melunasi pembayaran yang menjadi kewajiban mereka.

​Insiden ini sontak menjadi buah bibir dan mempermalukan nama baik Sulbar sebagai penyelenggara.

​Atlet Luar Jadi Korban, Dipaksa Keluar Hotel

​Ironisnya, masalah pembayaran ini tidak hanya menimpa panitia. Para atlet dari luar daerah yang menjadi peserta justru telah menjadi korban lebih dulu.

​Sejumlah kontingen, seperti yang menginap di Hotel Grand Putra, melaporkan bahwa mereka telah dipaksa untuk check-out (keluar) sejak kemarin (sehari sebelum penutupan).

Penyebabnya sama: Pihak panitia Kejurnas belum juga membayarkan tagihan kamar kepada pihak hotel.

​”Kami datang sebagai tamu, diundang untuk bertanding, tapi diperlakukan seperti ini. Tentu sangat mengecewakan,” ujar salah satu ofisial kontingen yang terdampak, Rabu (12/11).

(Hl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *