MamujuSulbar

Jelang Nataru, LPG 3 Kg Langka di Desa Patidi Mamuju, Harga Tembus Rp35 Ribu

242
×

Jelang Nataru, LPG 3 Kg Langka di Desa Patidi Mamuju, Harga Tembus Rp35 Ribu

Sebarkan artikel ini

Mamuju, RelasiPublik.id — Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, masyarakat Desa Patidi, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju mengeluhkan kelangkaan tabung gas LPG 3 kilogram yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Gas bersubsidi yang biasa digunakan masyarakat kecil tersebut sulit ditemukan, baik di pangkalan resmi maupun di tingkat pengecer.

Salah seorang warga Desa Patidi, Nursan, mengungkapkan bahwa kelangkaan LPG 3 kg sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

Menurutnya, warga harus berkeliling ke beberapa tempat hanya untuk mencari satu tabung gas, namun sering kali hasilnya nihil.

“Sudah beberapa hari ini gas 3 kilo susah sekali didapat. Kami sudah cari ke banyak pengecer, tapi kosong. Kalau pun ada, harganya sudah mahal,” ujar Nursan kepada RelasiPublik.id, Rabu (24/12).

Ia menyebutkan, harga LPG 3 kg yang biasanya dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) kini melonjak tajam.

Di sejumlah pengecer, harga gas bersubsidi tersebut dijual hingga Rp30 ribu bahkan mencapai Rp 35 ribu per tabung, jauh di atas harga normal.

Kondisi ini, lanjut Nursan, sangat memberatkan masyarakat kecil, terlebih menjelang hari besar keagamaan dan pergantian tahun, di mana kebutuhan rumah tangga cenderung meningkat.

Warga yang bergantung pada LPG 3 kg terpaksa mengurangi aktivitas memasak atau mencari alternatif lain.

“Mau tidak mau kami harus beli karena ini kebutuhan utama. Tapi jelas sangat memberatkan, apalagi ekonomi masyarakat saat ini juga tidak stabil,” tambahnya.

Masyarakat Desa Patidi berharap pemerintah daerah bersama pihak Pertamina dan Dinas Perdagangan, segera turun tangan untuk menormalisasi pasokan gas LPG 3 kg di wilayah mereka.

Warga juga meminta adanya pengawasan ketat terhadap distribusi agar tidak terjadi penimbunan dan permainan harga yang merugikan masyarakat kecil.

(Hl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *