Mamuju TengahSulbar

Dedikasi Relawan Dapur SPPG Karossa: Pahlawan Gizi untuk Ribuan Siswa di Mamuju Tengah

1116
×

Dedikasi Relawan Dapur SPPG Karossa: Pahlawan Gizi untuk Ribuan Siswa di Mamuju Tengah

Sebarkan artikel ini

Mamuju Tengah — Di tengah hiruk pikuk pagi hari, jauh sebelum lonceng sekolah berbunyi, denyut kehidupan sudah mulai terasa di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Karossa.

Di tempat inilah para relawan tanpa lelah menorehkan dedikasi tinggi demi memastikan ribuan siswa di Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju Tengah, mendapatkan asupan makanan bergizi tepat waktu.

Perjuangan para relawan Dapur SPPG dimulai sejak dini hari. Saat kebanyakan warga masih terlelap, sekitar pukul 03.00 atau 04.00 WITA, dapur sudah dipenuhi aroma masakan. Mereka adalah “pahlawan gizi” yang berkomitmen penuh pada jadwal yang ketat.

Setiap hari, tim relawan menyiapkan ribuan porsi makanan bergizi seimbang untuk didistribusikan ke puluhan sekolah — mulai dari tingkat TK hingga SMA. Prosesnya panjang: memilih bahan segar, mencuci, memotong, hingga memasak dengan standar kebersihan dan gizi yang ketat. Semua dilakukan dengan gerak cepat dan terorganisir; ini adalah perlombaan melawan waktu.

“Kami harus memastikan semua porsi siap dan sudah terkemas rapi sebelum jam sekolah dimulai. Setiap detik sangat berharga,” ujar Wilton Simbong.

Tantangan terbesar mereka adalah menjaga kualitas dan suhu makanan dalam jumlah besar.

Di bawah tekanan waktu, para relawan bekerja keras agar hidangan — nasi, lauk pauk (protein hewani dan nabati), sayuran, dan buah segar — sampai di tangan siswa dalam kondisi terbaik.

Sesuai ketentuan program, tim distribusi wajib menyalurkan seluruh paket makanan ke sekolah-sekolah sasaran mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WITA. Jadwal ini disesuaikan dengan waktu istirahat dan makan siang siswa di berbagai jenjang.

Begitu matahari mulai meninggi, armada distribusi Dapur SPPG Karossa bergerak cepat melintasi desa dan jalanan.

Mereka menjadi ujung tombak pengantar harapan gizi, memastikan tidak ada satu pun siswa yang terlewat dari jatah Makan Bergizi Gratis (MBG) hari itu.

“Melihat senyum dan antusiasme anak-anak ketika menerima makanan adalah energi terbesar bagi kami. Itu alasan kami rela bangun sebelum subuh,” tutup Wilton Simbong.

(Hl)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *